AGAMA dan MASYARAKAT MULTIKULTURAL


Didalam masyarakat multikultural agama memiliki banyak versi. Mulai dari segi pemahaman sampai pada arti penting agama sesuai dengan kultur masing- masing daerah atau tempat.  Merupakan suatu hal yang luar biasa dengan adanya mata kuliah agama dan masyarakat multikultural. Dari sini kami dapat mengetahui lebih dalam realitas yang ada serta dapat melihatnya secara bijaksana terkait dengan banyaknya perbedaan yang ada.
Sebelum memperoleh mata kuliah agama dan masyarakat multilultural, sering kali memandang perbedaan dengan sebelah mata. Menganggap bahwa yang beda itu tidak sejalan dengan kita, menjadikan kita berfikir sempit. Pola pemikiran sebelumnya seperti dibatasi oleh ruang yang sulit untuk ditembus. Sifat fanatik pada satu ilmu menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya pemikiran yang sempit. Tidak mau mengepakkan sayap lebih lebar untuk memperoleh pengalaman baru sebagai guru yang bijak. Selalu menganggap apa yang kita pegang dan pahami adalah yang terbaik.
Segala sesuatu secara pasti mempunyai nilai positif dan negative. Begitupun dengan keadaan masyarakat yang multikultural. Dari segi positif mempunyai keanekaragaman yang memiliki keunikan tersendiri dari masing- masing masyarakat. Namun ketika dipandang dari segi negative, ternyata banyak hal yang dapat kita jumpai dari adanya sistem masyarakat multikultural. Beberapa konsekuensi logis yang dapat diambil sebagai contoh : terdapat perbedaan paham, terjadi konflik, adanya pengelompokan masyarakat minoritas dan mayoritas. Adanya banyak perbedaan diharapkan mampu memperkokoh kesatuan, namun dalam kenyataanya malah membuat persetruan yang berujng konflik yang sifatnya bisa antar individu, kelompok, ras dan golongan. Hal ini sangat disayangkan sekali, mengingat bahwa masyarakat multicultural yang terdapat di Indonesia sudah ada sejak dulu. Tapi kenapa konflik belum juga dapat teratasi.
Seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, semakin dapat terlihat jelas upaya yang dilakukan beberapa pihak yang bertujuan untuk meminimalkan adanya konflik sebagai akibat adanya masyarakat Indonesia yang majemuk ini. Hal yang dapat ditanamkan salah satunya adalah dengan meningkatkan toleransi/ tenggang rasa.
Semakin tinggi pengetahuan seseorang terhadap suatu disiplin ilmu akan semakin luas padangan dan pemikirannya dalam menanggapi suatu hal. Akan mampu berfikir lebih bijaksana. Dalam mata kuliah ini, kami banyak belajar tentang kasus atau berita- berita yang ada kaitannya dengan agama dan masyarakat multicultural. Mempelajari tentang perbedaan paham dan cara bijaksana menyikapinya, tentang konflik dan cara penyelesaiannya dll. Mata kuliah ini dapat dijadikan sebagai jembatan yang menghubungkan antara pemahaman masyarakat awam dengan masyarakat yang telah mengenyam sedikit banyak tentang ilmu pengetahuan.
Kami mengetahui bagaimana asal mula agama- agama lahir, bagaimana manusia pertama itu ada dan bagaimana keadaan beda agama hari ini dengan dulu. Sudah pasti bahwa kondisi lingkungan sekarang sangat berbeda dengan dulu, hal ini pula yang menyebabkan kemajuan pola pikir dan terkikisnya nilai religious. Karena kenyataan yang ada sekarang, dunia ini serba instant dan gak pake lama. Sangat tidak mungkin pula ketika terdapat pendapat yang menyatakan bahwa, kehidupan agama sekarang harus sesuai dan kembali seperti zaman dahulu agar ummat kembali dapat merasakan nikmatnya menganut dan menjalankan agama masing- masing. Karena memang perputaran roda dunia telah menjadikan realitas yang seperti sekarang ini, yang dapat dilakukan setidaknya sebagai usaha ummat tetap selamat, dalam artian lingkup agama mereka., yakni dengan mnyesuaikan ajaran secara kontekstual asalkan tidak melenceng dari kitab yang telah menjadi pedoman dalam suatu agama.
Peran agama dalam keadaan masyarakat yang majemuk adalah salah satunya sebagai perekat sosial. Sebuah teori yang dikemukakan oleh Emile Durkheim dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life ( bentuk- bentuk dasar kehidupan keagamaan ). Dengan unsur solidaritas agama memiliki fungsi sosial. Agama bukan ilusi, melainkan merupakan fakta sosial yang dapat diidentifikasi dan mempunyai kepentingan sosial ( Abdullah, 1997 : 31 ).  Karenannya agama sebenarnya tidak berisi kepercayaan terhadap roh- roh atau dewa, akan tetapi lebih pada pemisahan antara yang sacral dan yang profan. Dalam perspektif solidaritas sosial, agama berpwran menjembatani ketegangan, menjaga kelangsungan masyarakat ketika dihadapkan pada tantangan kehidupan. Dalam hal ini agama berperan penting menyatukan anggota masyarakat melalui diskripsi simbolik suci mengenai kedudukan mereka dalam sejarah, kosmos dan tujuan mereka dalam keteraturan segala sesuatu.
Agama juga dapat menghasilkan konflik ketika berada ditengah- tengah kondisi masyarakat yang majemuk. Seperti dalam teori yang diungkapkan oleh Marx. Mengapa agama dan konflik dijadikan dalam satu judul? Karena memang dalam realitas yang ada, agama atau paham keyakinan yang berbeda dapat menyebabkan terjadinya konflik. Perbedaan keyakinan dan ritual dalam sebuah agama sering menjadi alasan politik, penguasaan ekonomi dan usaha untuk mendominasi etnis tertentu dengan etnis lainnya.
 Meminjam pendapat dari Kamal Abulmagd ( 1995 ), konflik sosial keagamaan antara lain dipengaruhi oleh sikap fundamentaisme keagamaan. Hal ini diartikan sebagai keagamaan yang bersifat “ dangkal “, dengan ciri- ciri antara lain : memiliki pandangan yang sempit, pendekatan statis, sikap anti sosial, dan sikap fanatisme yang hanya mengagungkan kebesaran masa lalu.
Hidup di sebuah Negara yang memiliki masyarakat multicultural, sangat rentan terjadi keterasingan karena apa yang diyakini berbeda dengan apa yang ada dalam kenyataan umum. Terasing dalam dunia sosial, ekonomi dan banyak hal. Hal ini pula yang menjadikan adanya pemisahan antara mayor dan minor, dimana kaum minor seantiasa menempati posisi yang tertindas dan terkesampingkan dalam kehidupan.
Menjadi anggota dalam masyarakat majemuk bukan hal yang dapat dikatakan mudah, keyakinan yang kuat menjadi landasan utama untuk tetap bertahan menyikapi perbedaan yang ada. Harus dapat menyesuaikan pemahaman agama yang sifatnya berkembang sesuai dengan tuntutan zaman, jadi pemahaman tidak boleh stagnan dan terlalu tekstual. Namun ketika agama sudah bersinggungan dengan perkembangan zaman, banyak pemeluk agama yang justru kehilangan nilai religious mereka, kehilangan nikmatnya beribadah.
Hal yang lebih ironis adalah ketika mendengar realita bahwa agama dijadikan sebagai symbol, untuk melakukan suatu kegiatan yang sifatnya umum dan melibatkan 2 orang atau lebih. Agama hanya syarat agar terlihat memiliki kharisma tersendiri dan dapat menarik simpati orang lain. Padahal nilai- nilai dasar dari agama tersebut sering kali diabaikan, menyebabkan agama menjadi sesuatu yang seakan kehilangan jati dirinya sebagai instansi yang memberi dogma. Nilai- nilai sacral pun kian terkikis.
Namun hal yang menggelitik, ketika pengamalan agama dikabarkan hambar dan berkurang dari sisi spiritual, kenapa malah semakin marak dan berkembang berbagai acara yang berbau agama. Baik disiarkan melalui media elektronik maupun disampaikan melalui media massa dan dapat juga disampaikan secara lisan dengan audien 2 atau lebih. Hal ini diharapkan merupakan salah satu usaha untuk mengembalikan spirit keberagamaan seseorang yang mulai luntur seiring perkembangan zaman. Bukan malah dijadikan sebagai alat untuk semakin mengacak- acak tatanan keyakinan yang telah mulai goyah diterpa kehidupan yang mengenakan dan melenakan ini.
Agama yang terkadang dijadikan kedok untuk melancarkan aksi suatu kelompok tau golongan, merupakan hal yang sangat menjengkelkan. Mengapa tidak ? karena perbuatan beberapa oknum dapat mencemarkan nama baik suatu agama dalam pentas panggung masyarakat multikultural ini.
Setelah mengikuti pembelajaran mata kuliah Agama dan Masyarakat Multikultural, menjadikan pemikiran lebih terbuka. Ketika dihadapkan pada kenyataan adanya perbedaan, dapat menanggapi perbedaan dengan cara yang lebih bijaksana. Tidak memandang dengan sebelah mata, mau mengkaji lebih dalam kenapa bisa terjadi perbedaan itu. Menghargai dan merespon positif dengan adanya keberagaman tersebut.
Mengetahui keanekaragaman pemahaman, dan beberapa kasus yang terjadi di Bumi pertiwi khususnya dan kasus internasional umumnya. Dapat memberi diskripsi yang jelas tentang agama islam khususnya, mematahkan pemikiran tentang pengetahuan agama yang sifatnya fundamental. Dan lebih santai melihat agama yang lain, yang tidak sepaham dengan keyakinan kita.
Mengetahui akar permasalahan dari beberapa kasus yang dipresentasikan rekan- rekan dan memahami respon dari beberapa teman yang pro dan kontra menanggapi masalah atau kasus tersebut. Dapat dijadikan bekal untuk berfikir lebih kritis dalam diskusi yang ada kaitannya dengan mata kuliah ini.
Mata kuliah Agama dan masyarakat multicultural juga memberikan sumbang sih yang besar dalam system pengetahuan yang awalnya tidak tahu atau kurang tahu menjadi tahu. Mengajarkan materi secara teoritik dan dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari- hari, sebagai bekal untuk hidup di masyarakat yang sangat beragam ini. Karena pengetahuan yang diberikan mempunyai sifat umum dan sangat sesuai dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat sekitar.

Sering pula diberikan gambaran bukan hanya masalah agama, namun pengetahuan yang mendukung dan melengkapi dari mata kuliah ini. Setiap pembelajaran dijelaskan secara detail dan mudah dipahami. Satu materi yang menjadikan kami tertarik yakni ketika mebahas islam, agama yang sudah di anut selama 18 tahun dengan paradigma yang dibangun dari TPA dan orang tua, ternyata setelah mempelajari mata kuliah ini banyak sekali hal yang belum diketahui.  Hal ini yang menyebabkan seseorang berfikir bahwa apa yang ia pegang benar, karena ia tidak mau mempelajari hal lain yang berbeda.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "AGAMA dan MASYARAKAT MULTIKULTURAL"

Posting Komentar